[UPDATE] Terkait COVID-19

Bhutan, negara yang unik di lereng Himalaya

Paro Taktsang (Tiger's Nest), biara Buddha di Paro, Bhutan

BHUTAN termasuk negara yang sangat jarang kita dengar namanya, karena tidak banyak muncul di media massa dan tidak terlalu sering dibahas dalam berita-berita. 

Bhutan terletak di sisi selatan Pegunungan Himalaya dan diapit oleh 2 negara besar, China dan India, juga berdekatan dengan Nepal dan Bangladesh. Sekitar 75% wilayahnya masih berupa hutan yang tidak terjamah oleh manusia, dan jumlah penduduknya sekitar 700 ribuan orang.

Walaupun tidak begitu tertutup, tetapi Bhutan adalah salah satu negara yang baru akhir-akhir ini mengalami modernisasi. Baru pada tahun 1999 Bhutan mengenal televisi dan internet setelah sebelumnya dilarang oleh pemerintah. Hingga saat ini pun, arsitektur tradisional masih mendominasi bangunan-bangunan di Bhutan baik itu rumah atau perkantoran. Warganya pun sehari-harinya masih memakai pakaian tradisional yaitu "gho" untuk laki-laki dan "kira & wanju" untuk perempuan.

Suasana kota Thimphu, ibukota negara Bhutan

Gross National Happiness dan polisi pengganti lampu merah

Ada 2 keunikan Bhutan yang sempat mencuat di media massa internasional. Yang pertama adalah konsep Gross National Happiness yang menjadi tolok ukur kemajuan negara, sangat berbeda dengan Gross National Product yang dianut oleh negara-negara lainnya. Pemerintah Bhutan menganggap bahwa kesuksesan suatu negara tidak dilihat dari tingginya jumlah produksi atau nilai perekonomian, tetapi dari kebahagiaan warganya. Penilaian kebahagiaan warganya ini berdasarkan 4 pilar dan 9 aspek, yang dinilai berdasarkan survey kepada warganya. 

Yang kedua adalah bagaimana negara ini tidak punya lampu lalu lintas sama sekali, termasuk di kota-kota besar seperti Thimphu dan Phuentsholing. Sebagai gantinya, polisi lalu lintas disiagakan di persimpangan jalan. Tinggal 2 negara di bumi ini yang tidak punya lampu merah, yaitu Bhutan dan Korea Utara.

Pegunungan Himalaya dari sisi Bhutan

Daya tarik utama: alam Himalaya dan budaya yang masih asli

Bukan hanya 2 itu saja yang menjadikan Bhutan sebagai negara yang menarik. Posisinya yang ada di lereng Himalaya serta upaya pemerintahnya untuk mempertahankan lebih dari 50% wilayahnya sebagai wilayah konservasi dan tidak terpengaruh pembangunan modern, menjadikan udara Bhutan masih sangat segar dan keindahan alamnya masih asli. Karena itulah, selain India dan Nepal, Bhutan juga bisa menjadi pilihan kalian untuk menikmati keindahan Pegunungan Himalaya, pegunungan tertinggi di dunia dengan ketinggian lebih dari 6.000 m dari permukaan laut.

Selain lingkungannya, Bhutan juga memiliki budaya yang tidak banyak terpengaruh budaya asing modern. Kebudayaan masyarakat Bhutan masih serumpun dengan bangsa Tibet di sebelah utaranya. Penduduk asli Bhutan beragama Buddha, dan kuil-kuil atau biara-biara Buddha dengan arsitektur khas Tibet bertebaran di negaranya. Salah satu yang menjadi atraksi wisata utama adalah biara Paro Taktsang yang terletak di pegunungan di dekat kota Paro. Biara ini hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau menggunakan kuda. Tradisi umat Buddha di Tibet seperti memutar lonceng untuk berdoa juga dapat kalian lihat di Bhutan.

Penduduk Bhutan dengan pakaian tradisionalnya

Berwisata ke Bhutan?

Berwisata ke Bhutan tergolong tidak mudah karena kalian harus menyediakan budget yang cukup besar. Bhutan mewajibkan turis dari luar negeri (kecuali India, Bangladesh dan Maldives) untuk memiliki visa agar bisa masuk ke Bhutan. Dan untuk mendapatkan visa ini kalian harus membayar US$ 200 (atau 250 saat peak season) per hari kunjungan kalian, yang bisa kalian ajukan melalui kantor pariwisata yang ditunjuk oleh pemerintah Bhutan. Ini dilakukan untuk menjamin agar wisatawan yang datang tidak menjadi ancaman bagi budaya Bhutan, dan uang dari visa ini digunakan oleh pemerintah untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Bhutan sendiri.

Dengan biaya visa sebesar 200-250 dollar ini, kalian sudah mendapatkan hotel, transportasi darat, makanan dan minuman sesuai agenda perjalanan.

Pesawat Druk Air di bandara Paro, Bhutan

CARA MENUJU BHUTAN

Jalur Udara
Pintu masuk Bhutan dari negara lain dengan pesawat adalah bandara Paro, yang terletak sekitar 30 km dari Thimphu, ibukota Bhutan. Bandara ini adalah salah satu bandara yang paling sulit didarati oleh pesawat, dan pilot yang mengoperasikan pesawat dari/ke bandara ini harus memiliki sertifikat khusus.
Ada 2 maskapai yang melayani rute internasional dari/ke Bhutan, yaitu Druk Air dan Bhutan Airlines. Penerbangan langsung menuju Bhutan dengan 2 maskapai ini tersedia dari India, Nepal, Bangladesh, Thailand dan Singapore. 
Karena minimnya persaingan dengan sulitnya pesawat menuju bandara ini, maka tarif penerbangan menuju Bhutan tergolong mahal. Dari Singapore tiket sekali jalannya seharga US$ 500-an (sekitar 7 jutaan Rupiah), sementara dari Bagdogra, kota terdekat di India, tarifnya US$ 100-an (sekitar 1,5 jutaan Rupiah) sekali jalan.

Jalur Darat
Cara yang lebih murah menuju Bhutan adalah dengan jalur darat dari India. Pintu masuk utama Bhutan dengan jalur darat adalah kota Phuentsholing, salah satu pusat bisnis Bhutan yang terletak di perbatasan Bhutan dan India.
Untuk menuju Phuentsholing terdapat bus langsung dari Kolkata, West Bengal, setiap 3x seminggu yang menempuh perjalanan sekitar 18 jam. Selain itu terdapat juga bus dari Siliguri, sebuah kota di bagian utara West Bengal menuju Phuentsholing yang beroperasi 2x sehari dengan waktu tempuh 4 jam. Siliguri dapat dicapai dengan kereta api dari kota lainnya di India seperti Delhi dan Kolkata. 
Dari Indonesia, kalian bisa menuju Kolkata dengan pesawat Air Asia (transit di Kuala Lumpur atau Bangkok), Malindo Air (transit di Kuala Lumpur), Singapore Airlines & Silk Air (transit di Singapore), Thai Airways (transit di Bangkok). 
Setelah masuk negara Bhutan di Phuentsholing kalian bisa melanjutkan perjalanan ke Thimphu, ibukota Bhutan, dengan bus atau mobil sewaan, yang memakan waktu sekitar 6-7 jam. Biasanya perjalanan dari Phuentsholing ke Thimphu atau sebaliknya sudah termasuk dalam biaya visa kalian.

Jika kalian sedang mencari tujuan wisata yang anti-mainstream, silakan datang ke Bhutan. Kalian akan menemukan keaslian alam dan budaya yang sulit kalian temui di tempat lainnya.

Ayo PIKNIK ke BHUTAN sekarang juga!!!

Comments