[UPDATE] Terkait COVID-19

Menemukan Jawa di Suriname

Desa Tamanredjo, Distrik Commewijne, Suriname

Mungkin kalian pernah mendengar sebuah negara "Suriname". Negara ini kita kenal sebagai salah satu negara dengan jumlah etnis Jawa yang cukup besar, yaitu sekitar 70.000 jiwa atau sekitar 14% dari keseluruhan penduduk Suriname. Tapi mungkin kalian tidak tahu di mana letak negara ini.

Suriname terletak di benua Amerika Selatan. Berbatasan dengan Laut Karibia di sebelah utara, Guyana Perancis di sebelah timur, Brazil di sebelah selatan, dan Guyana di sebelah barat. Posisinya tidak jauh dari garis khatulistiwa. Ketika negara-negara lainnya di Amerika Selatan adalah bekas koloni Spanyol dan Portugis, berbeda dengan Suriname yang dulunya adalah wilayah jajahan Belanda. Bahasa Belanda masih menjadi bahasa resmi negara ini, selain itu terdapat bahasa-bahasa yang digunakan masyarakatnya seperti Sranan Tongo, Hindustani, dan tentunya bahasa Jawa.

Letak negara Suriname di peta dunia

Bagaimana bisa orang Jawa sebegitu jauhnya sampai ke negara ini? Tentu tidak lepas dari pemerintah kolonial Belanda yang selain menjajah Indonesia juga menguasai Suriname. Saat itu Suriname membutuhkan pekerja-pekerja kasar, dan setelah kedatangan buruh kasar dari India yang keturunannya juga masih menetap sampai saat ini di Suriname, pemerintah kolonial pun mendatangkan buruh kasar asal Jawa. Mayoritas mereka berasal dari Jawa Tengah, tepatnya dari karesidenan Kedu. Sebagian lagi berasal dari Yogyakarta, Jawa Timur, bahkan ada juga dari Jawa Barat dan Sumatera walaupun sedikit.

Beberapa sumber mengatakan bahwa orang-orang dari Jawa ini ditipu oleh pemerintah kolonial karena awalnya akan dibawa ke Sumatera, seperti buruh kontrak yang sebelumnya sudah dibawa dari Jawa ke perkebunan di Lampung dan Sumatera Utara. Tetapi ternyata mereka dibawa kapal selama berbulan-bulan sampai ke Suriname, sebuah negeri yang masih antah-berantah bagi orang Jawa saat itu.

Pada tahun 1894 orang-orang Jawa ini pun tiba di Suriname, dan tanggal 9 Agustus masih diperingati sebagai hari kedatangan bangsa Jawa di Suriname. Pada awalnya mereka dipekerjakan di perkebunan tebu di Marienburg, dan kemudian di pabrik-pabrik dan perkebunan lainnya milik pemerintah kolonial Belanda di berbagai daerah seperti Paramaribo (ibukota Suriname sekarang), Lelydorp, Nickerie, dan Moengo.

Bekas pabrik gula di Marienburg, distrik Commewijne

Gelombang kedatangan orang Jawa pun terus bertambah sejak 1895 hingga 1939, yang awalnya mereka bekerja di perkebunan tebu, kemudian ada juga yang dipekerjakan di perusahaan kereta api dan penambangan bauksit. Sebagian mereka pun membentuk desa-desa sendiri dengan nama Jawa, seperti Tamanredjo (distrik Commewijne) dan Kampoeng Baroe (distrik Saramacca).

Kini keturunan Jawa di Suriname tidak lagi bekerja sebagai pekerja paksa, tetapi meliputi berbagai bidang pekerjaan, seperti petani, pedagang, pegawai pemerintahan, bahkan ada juga yang menduduki posisi penting di pemerintahan seperti Paul Somohardjo (mantan ketua parlemen) dan Raymond Sapoen (mantan menteri dan calon presiden). Sebagian besar mereka masih menetap di Distrik Paramaribo, Commewijne, Saramacca, Wanica dan Nickerie.

Orang-orang Jawa di Suriname masih mempertahankan bahasa Jawa (walaupun mulai bercampur bahasa Belanda dan Sranan Tongo) serta mengamalkan tradisi Jawa seperti "selametan" atau syukuran, gotong royong menyambut hari raya atau pesta, dan "siraman" sebelum pernikahan. Begitu juga dengan kesenian seperti gamelan, wayang kulit, dan jaran kepang, masih dilakukan oleh masyarakat Jawa di Suriname.

Kesenian Jawa di Suriname

Sama seperti suku Jawa di tempat asalnya, sebagian besar suku Jawa di Suriname beragama Islam, dan sebagian kecilnya menganut agama Kristen, kepercayaan leluhur dan lainnya. Walaupun kini mereka telah jauh di Amerika Latin, tetapi kontak dengan saudara-saudaranya di Pulau Jawa masih ada terutama melalui internet di era modern ini. Artis-artis Jawa seperti Didi Kempot, Kirun, dan Marwoto pernah tampil di negara ini dengan penonton yang meriah. Masyarakat Jawa di Suriname pun memiliki stasiun TV dan radio lokal yang bersiaran dalam bahasa Jawa.

Sebagai wadah bagi masyarakat Jawa yang ingin melestarikan budayanya, terdapat sebuah gedung bernama Sana Budaya di Kota Paramaribo. Di sini kita bisa menikmati pertunjukan kesenian Jawa seperti wayang kulit, gamelan, dan diskusi bersama masyarakat Jawa. Di sini juga kita bisa melihat monumen dalam bentuk "gunungan" untuk memperingati 100 tahun kedatangan bangsa Jawa ke Suriname.

Monumen 100 tahun kedatangan bangsa Jawa, Sana Budaya, Paramaribo

CARA MENUJU SURINAME

Jika kalian rindu untuk bertemu dengan bangsa Jawa yang ada di Suriname, cara yang paling mudah dari Indonesia adalah menuju Suriname adalah dengan pesawat KLM dari Jakarta dan Bali (Denpasar) dengan transit di Amsterdam, Belanda. Pesawat KLM dari Amsterdam ke Paramaribo, Suriname tersedia 5x seminggu, setiap hari kecuali hari Rabu dan Jumat. Harga tiket akan jauh lebih murah jika kalian berangkat dari Kuala Lumpur (Malaysia) atau Singapore dengan harga mulai 20 jutaan (PP) sementara dari Indonesia harganya bisa mencapai 2 kali lipatnya. Cek harga promonya di sini. 

Selain KLM dari/ke Amsterdam, tersedia juga penerbangan dengan maskapai nasional Suriname yaitu Surinam Airways dengan rute dari/ke kota-kota lain di Karibia, Brazil, Guyana, dan Amerika Serikat.

Pesawat akan mendat di Bandara Johan Adolf Pengel, Paramaribo. Warga Negara Indonesia (WNI) bisa memasuki Suriname dengan Visa on Arrival (VOA) yang bisa kalian dapatkan setelah mendarat di bandara, tanpa perlu mengajukan visa terlebih dahulu.

Suriname juga bisa dijangkau dari Guyana dan Guyana Perancis dengan jalur darat.

Selain tiket pesawat dari/ke Suriname, KURANG-PIKNIK.COM juga membantu kalian memesan hotel di Suriname.

Ayo PIKNIK ke SURINAME sekarang juga!!!

Comments